Harga Daging Sapi di Rohul Mustahil Ditekan Hingga Rp 80 Ribu
ROKAN HULU- Pemkab Rokan Hulu (Rohul) mustahil harga daging sapi potong di pasaran sulit turun menjadi Rp 80 ribu per kilogram pada Ramadan hingga Idul Fitri 1437 Hijriah.
"Harga daging sapi relatif stabil pada kisaran Rp 110-120 ribu per kilogram karena stok cukup. Namun untuk turun menjadi Rp 80 ribu per kilogram sulit direalisasikan di Rohul," kata Kepala Dinas Peterneakan dan Perikanan (Disnakan) Marjoko, Jumat (1/7) di Pasir Pengaraian
Menurutnya harga daging sapi segar di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) termasuk biaya operasional pemeliharaan dan biaya pemotongan sapi yang dijual kepada pedagang berkisar Rp 95-100 ribu per Kg "Harga daging sapi di RPH sudah di atas Rp 80 ribu per kg sehingga otomatis para pedagang eceran ingin mendapat keuntungan berkisar Rp 10-15 ribu per kilogram karena pedagang tentunya tidak ingin merugi," tuturnya.
Jadi mustahil rasanya jika harga daging sapi di Rohul ditekan hingga 80 ribu per kg, karena hal itu sama artinya dengan melemahkan petani. "Saya rasa mustahil, jika itu terjadi maka itu sama artinya dengan memamtikan petani," sebutnya
Disinggung tentang stok daging sapi di Rohul jelang Hari raya Idul Fitri, Marjoko memastikan stok daging sapi di Rohul cukup untuk memenuhi kebutuhan lebaran dan idul adha. dia memperkirakan jelang lebaran ini perminataan akan daging di rohul akan meningkat dari 10-12 ekor perhari (satu Ekor Sapi 200 Kg) meningkat menjadi 19 sampai 20 ekor perhari. " Sebagian besar sapi itu kita datangkan dari Lampung dan sebagian lagi sapi penjantan lokal," imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Modren Pasi Ppengaraian Ucok menyebutkan mengatakan harga daging sapi di rohul saat ini masih stabil, yakni pada kisaran Rp 110-115 ribu per kilogram untuk kualitas bagus.
sementara ketika ditanya apakah mungkin harga daging sapi dijual diharga 80 ribu per Kg, Ucok menyebtukan hal itu merupakan suatu hal yang mustahil, kecuali pemerintah mau memberikan subisidi kepada pedagang. " Tidak mungkin menjual kepada konsumen dengan harga Rp 80 ribu sesuai dengan harapan pemerintah, kecuali pemerinah mau memberikan subisidi," pungkasnya. (dpr/raj)