Kurban Tidak Bisa Dipisahkan Dari Pengembangan Ekonomi Kerakyatan
Portalriau.com - PASIR PANGARAIAN - Pelaksanaan ibadah kurban, baik itu dalam perspektif awal mula diperintahkannya di masa Nabi Adam as maupun pelaksanaannya pada masa Nabi Ibrahim as dan pelembagaannya di Nabi Muhammad saw, seluruhnya tidak dapat dipisahkan dari pengembangan ekonomi kerakyatan.
Kurban, di masa Nabi Adam as, diwujudkan dalam bentuk hasil pertanian yang diqurbankan oleh Qabil dan hasil peternakan yang diqurbankan oleh Habil. kurban Qabil memang ditolak karena memberikan yang terjelek dari hasil usahanya, sedangkan qurban Habil diterima karena memberikan yang terbaik dari hasil usahanya.
“Kemudian, dimasa Nabi Ibrahim as, anak beliau sendiri Ismail as yang akan dikurbankan dengan disembelih. Namun sejarah mencatat, bahwa Ismail anak Nabi Ibrahim as digantikan dengan seekor domba yang besar dan sehat, karena memang manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Allah, terlalu mulia untuk dijadikan kurban,”terang Kakankemenag Rohul, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, Kamis (25/9/2014), sikapi pelaksanaan kurban di bulan Idul Adha yang sebentar lagi tiba.
Jelas Ahmad Supardi Hasibuan lagi, bercermin pada kurban Nabi Ibrahim as itu, maka kurban pada masa Nabi Muhammad saw dan pengikutnya, hingga hari qiamat adalah sapi, lembu, kambing atau domba peliharaan yang diperintahkan sekali setahun.
“Ibadah kurban, memiliki peran yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi kerakyatan dengan alasan, yang jadi subyek kurban adalah orang kaya. Kekayaan harus dimiliki baru bisa berqurban. Dengan demikian maka ibadah qurban memberikan motivasi bagi umat Islam untuk giat bekerja sebab hanya dengan bekerjalah maka dapat berkurban,”jelasnya Ahmad Supardi.
Kemudian yang lainnya, yang jadi obyek qurban adalah sapi, lembu, kambing dan domba. Keempat hewan ini adalah binatang jinak peliharaan manusia dan sumber ekonomi kerakyatan. Perintah kurban pada dasarnya memerintahkan umat Islam untuk membuka peternakan secara professional.
“Saya menyayangkan, ternyata hewan kurban kita saat ini banyak disuplay dari hasil peternakan orang lain yang tidak beragama Islam. Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa orang lain lebih peka menangkap substansi ajaran agama Islam daripada orang Islam itu sendiri. Wallohu A’lam Bish-showab,”ucap Ahmad Supardi. (Hendra)