Jalan di Cerenti Terputus, yang menghubungkan kab.Inhu dengan kab.Kuansing
RENGAT-Sejumlah warga Kabupaten Indragiri hulu berharap Pemerintah Provinsi Riau segera memperbaiki putusnya ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Inhu dengan Kabupaten Kuansing. Pasalnya, sejak jalan di Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuansing tersebut putus, harga kebutuhan pokok hingga ongkos transportasi umum di Kabupaten Inhu mengalami peningkatan signifikan.
Bahkan hingga Kamis (12/6) atau satu pekan sejak jalan tersebut putus, belum ada tanda-tanda perbaikan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau. Masyarakat yang melintas mengeluh karena banyak terdapat pungutan liar di sekitar lokasi putusnya jalan tersebut.
Yang paling merasakan dampak akibat putusnya jalan di Cerenti adalah masyarakat di kabupaten Inhu.
Sebab sejumlah kebutuhan pokok mulai dari beras, telur hingga sayur-sayuran di Inhu berasal dari Sumatera Barat. Sementara jalan tersebut merupakan akses yang paling dekat, ujar salah seorang pedagang harian di Kecamatan Peranap, Dewi, Kamis (12/6).
Menurut Dewi, sejak jalan tersebut putus, sejumlah pedagang sayur dan kebutuhan pokok masyarakat yang berasal dari Sumatera Barat memilih berputar melewati Pekanbaru untuk menuju Kabupaten Inhu. Akibatnya, waktu dan biaya yang dibutuhkan meningkat sehingga berimbas kepada sayuran dan harga kebutuhan pokok yang mereka jual di Inhu.
Memang ada juga pedagang dari Sumbar yang memilih transit di sekitar jalan yang putus tersebut, tetapi mereka mengeluh karena banyak terdapat pungutan liar saat mereka memindahkan barang ke mobil lain, bahkan pungutan liar yang diminta hingga mencapai ratusan ribu, ujarnya.
Selain kebutuhan pokok masyarakat, putusnya jalan yang menghubungkan Kabupaten Kuansing dan Inhu juga mengakibatkan harga semen, khusunya di Kecamatan Peranap dan sekitarnya mengalami peningkatan hingga Rp 70 ribu per zak. Padahal sebelumnya, harga semen hanya berkisar Rp 60 ribu per zak. Kalau semen terpaksa di bawa dari Sumbar menuju Pekanbaru dan kemudian baru ke Peranap ini, sehingga butuh waktu dan biaya lebih tinggi, jelasnya.
Tidak hanya Dewi, Effendi, salah seorang sopir angkutan umum Rengat-Taluk Kuantan mengungkapkan bahwa ia terpaksa memilih melewati jalan tanah dari Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten Inhu agar bisa menuju Kabupaten Kuansing. Hanya saja, untuk melintas di jalan alternatif tersebut, hanya bisa dilakukan jika hari tidak hujan. Memang ada jalan atlernatif, tetapi kondisinya masih jalan tanah dan jika hari hujan tidak bisa dilalui, ujarnya.
Selain kondisi jalan yang tanah dan licin jika hujan, masyarakat setempat memanfaatkan putusnya jalan untuk menarik pungutan liar dari pengendara. Akibatnya biaya yang harus dikeluarkan sopir semakin tinggi. Sudah lah rugi waktu dan bensin, pungutan liar di jalan alternatif tersebut banyak dan mereka minta paling sedikit Rp 5.000, tuturnya.
Karena kondisi itu, Effendi terpaksa menaikkan ongkos angkutan umum dari Rengat menuju Taluk Kuantan dari biasanya Rp 50 ribu menjadi Rp 70 ribu per orang. Kenaikan itu hanya untuk penumpang yang menuju Kabupaten Kuansing. Kalau masih dalam wilayah Inhu tidak ada kenaikan, ungkapnya.
Effendi juga menyampaikan hingga Kamis (12/6), belum ada tanda-tanda jalan putus tersebut akan diperbaiki. Padahal jalan tersebut sangat vital karena menjadi akses utama yang menghubungkan Kabupaten Inhu dan Kabupaten Kuansing. Setahu saya belum ada perbaikan sejak jalan itu putus sepekan yang lalu. Yang banyak hanya pungutan liar, ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Perdagangan dan Bina Produksi Disperindagpas Inhu, Winaldi mengungkapkan bahwa putusnya jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Inhu dan Kuansing telah menyebabkan harga sayuran di sejumlah pasar tradisional di Inhu mengalami peningkatan.
Jenis sayuran yang mengalami kenaikan seperti wortel dari harga Rp 10.000 menjadi Rp 18.000, tomat dari harga Rp 12.000 menjadi Rp 20.000, bawang merah dari Rp 16.000 menjadi Rp 20.000, cabe hijau dari 12.000 menjadi Rp 16.000, cabe merah dari 16.000 menjadi Rp 20.000, cabe merah besar dari Rp 12.000 menjadi Rp 16.000, cabe kering dari Rp 16.000 menjadi Rp 20.000. Tidak hanya sayuran, kenaikan harga juga terjadi pada telor dari Rp 32.000 menjadi Rp 34.000 serta daging ayam ras dari Rp 23.000 menjadi Rp 25.000.