Bakar Tongkang Tanda Kehidupan Pluralis
Rokan Hilir, Portalriau.com – sebagai Negara dengan masyarakatnya yang pluralisme (mejemuk) tentu keragaman budaya dan agama di Indonesia menjadi acuan untuk mempersatukan bangsa. Salah satunya yakni tradisi masyarakat tionghoa Bagansiapiapi, senin(24/6) di klenteng ing Hok Kiong dengan suka cita merayakan Go Gwee Cap Lak, sebuah agenda turun temurun berupa prosesi ritual bakar tongkang.
Agenda ritual ini sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dimana masyarakat tionghoa mempercayainya sejak tahun 1825 masehi, saat berdirinya kelenteng Ing Hok Kiong di bagansiapiapi. Namun, baru beberapa tahun belakangan ini ritual bakar tongkang di gelar secara meriah hingga mengundang perhatian wisatawan mancanegara. Tak pula, setiap tahunnya jumlah pengunjung mencapai puluhan ribu orang berjubel menjadi satu di ‘kota ikan’ itu. Menariknya lagi, prosesi ritual bakar tongkang ini telah menjadi agenda pariwisata nasional hingga internasional.
Sehari sebelum prosesi acara puncak bakar tongkang, seluruh masyarakat tionghoa terlebih dahulu menggelar sembahyang kepada Dewa Ki Hu Ong Ya yang lebih dikenal Dewa laut. Disaat itulah seluruh marga tionghoa tumpah ruah di kelenteng Ing Hio kecil hingga berukuran raksasa ditambah nyala lilin dan pembakaran kertas berwarna kuning atau yang biasa disebut kertas sembahyang. Kota ikan itu pun seakan sesak oleh tebalnya asap hasil pembakaran hio (dupa) sembahyang.
Tradisi dan kepercayaan masyarakat tionghoa bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hilir harus terus dipertahankan keeksisannya hingga sepanjang masa di setiap upacara prosesi ritual bakar tongkang dan hanya dilakukan pada bulan ke lima penanggalan imlek tanggal 16 disebut Go Gwee Cap Lak tersebut.
“Ritual ini sendiri merupakan tradisi dan kepercayaan masyarakat tionghoa bagan siapiapi. Tak ada yang berbeda setiap ritual ini digelar setiap tahunya. Tentunya, keistimewaan perayaan Go Gwee Cap Lak ada pada ritual bakar tongkang yang tidak terpisahkan dari sejarah kehadiran warga tionghoa di bagansiapiapi. Ritual ini juga berkaitan dengan kelenteng Ing Hok Kiong, tempat pemujaan sekaligus penghormatan terhadap Dewa Ki Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun Ong Ya yang lebih dikenal dengan Dewa keselamatan dan kesejahteraan bagi warga Indonesia tionghoa bagansiapiapi, oliong.
Lebih jauh dijelaskannya, ritual bakar tongkang ini sendiri dipercaya bagian momentum perayaan ulang tahun Dewa Ki Hu Ong Ya yang juga di percaya sebagai sarana yang berkaitan kearah kepercayaan pencarian rezeki. “Dengan wa Ki Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun, masyarakat pencerahan keselamatan dan kesejahteraan. Untuk itulah para pesembahyang tak jarang datang dari berbagai Negara tetangga perantauan asal bakar tongkang juga seakan tak terpisahkan dari perjalanan dan pembangunan kota bagansiapiapi, “ jelasnya menambahkan. (adv/Red)