Diserang Hama Puluhan Hektar Padi Petani di Pasir Baru Terancam Gagal Panen
Portalriau.com - PASIR PANGARAIAN - Puluhan hektar lahan persawahan di Desa Pasir Baru, Kecamatan Rambah, terancam gagal panen, karena diserang hama walang sangit, Burung Pipit serta hama tikus. Para petani meminta, agar pihak Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) turun untuk mengecek ke lapangan.
Penegasan itu dikatakan seorang petani padi sawah, Riya, Senin (10/11/2014). Diakuinya, padi di sawahnya, kini diserang hama Walang Sangit, tikus, bahkan burung pipit. Dirinya berharap, sebelum padi terlalu banyak diserang maka adanya antisipasi dari Pemkab Rohul.
“Hama datang saat bulir padi sudah keluar. Hama tikus juga burung pipit yang sudah memakan tanaman padi kami, berharap penyuluh pertanian bisa turun ke lapangan agar hama ini tidak menjadi-jadi,” harap Riya.
Juga ditegaskan Riya, yang memiliki tanaman padi sawah seluas setengah hektar, dirinya kawahalan mengahadapi hama-hama tersebut. Untuk saat ini Pemkab Rohul, belum memberikan solusi, kalau tidak ada antisipasi dari pemerintah, kemungkinan mereka akan mengalami gagal panen.
“Untuk bantuan pupuk yang diberikan terlambat datangnya, itupun berupa uang, sedangkan obat-obatan hingga belum diberikan pihak pemerintah,” tegas Riya.
Juga diakui petani lainnya, Ibu yanto, mengalami nasib yang sama. Tanaman padinya juga diserang hama, sehingga berharap agar nasib mereka diperhatikan lebih, karena saat ini hama sudah mulai mengganas.
“Hama yang paling berbahaya burung Pipit, kami tidak tahu lagi cara untuk mengatsasinya,” keluh Ibu Yanto.
Petani Semangka Juga Butuh Bantuan.
Selain petani padi, para petani semangka di Pasir Baru Kecamatan Rambah, juga membutuhkan bantuan dari Pemkab Rohu. Karena sejak 4 tahun menekuni profesi tersebut, hingga kini mereka belum menerima bantuan karena minimnya informasi terkait budidaya tanaman holtikultura.
Seperti diakui Ibu Sri, dirinya berharap agar Pemkab Rohul melalui Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Rohul, turun ke lapangan dan melakukan peninjauan.
Karena jelas Ibu Sri, kendala petani yakni karena tidak adanya bantuan pupuk dan lahan. Selama ini, petani bercocok tanam hanya meminjam lahan masyarakat, itupun disisipkan sela-sela tanaman kelapa sawit.
Menurut Sri, setiap tahunnya, dari penanaman buah semangka para petani bisa panen tiga kali. Setiap perpanennya, minimal petani bisa memperoleh hasil 7 ton buah semangka.Walaupun lahan hanya 2 hektar, bila dilakukan perawatan dengan maksimal, bisa menghasilkan sekitar 15 ton per panenya.
‘Saya menanam semangka madu (ukuran kecil) dan biasa (ukuran besar), kini malasah perlu ada bantuan dari pemerintah agar panen lebih banyak lagi,” pinta Sri. (MPR)