Hasil Kerja Lima Program Pemkab Kampar Masih Minim
Ternyata hasil survei yang dilakukan Bupati Kampar secara diam-diam, menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Banyak masyarakat Kampar yang tidak tahu program-program andalan Pemkab untuk mereka.
Portalriau.com-BANGKINANGKOTA-Diam-diam, Bupati Kampar Jefry Noer meminta surveyor asal Jakarta untuk mensurvei program kerja yang sudah dua tahun belakangan digeber. Survei itu menitikberatkan pada seberapa tahu masyarakat atas program itu dan seperti apa pelaksanaannya di lapangan.
Pada Senin (13/1/14), Jefry Noer membeberkan hasil survei ini di hadapan seluruh camat dan sejumlah kepala dinas di ruang rapat lantai III Kantor Bupati Kampar di Bangkinang.
Dari lima program kerja yang disurvei pada rentang waktu Desember 2013 hingga Januari 2014 di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar itu, Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan menduduki rating tertinggi, 52 persen.
Program Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) di angka 34 persen, Program Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) 30 persen, Program Zero Kemiskinan Pengangguran dan Rumah Kumuh 26 persen, serta Program Budidaya Bawang Merah 15 persen.
Angka-angka di atas adalah persentase orang Kampar tahu akan program itu. Lalu, bagaimana pendapat masyarakat soal pelaksanaan program tadi di lapangan? Hasil survei merinci begini; untuk SUT, dari 30 persen masyarakat yang tahu, hanya 36 persen yang mengatakan program SUT itu berjalan baik. Sementara 42 persen bilang belum berjalan dengan baik dan 22 persen mengaku tak tahu.
Kemudian Program Zero Kemiskinan, Pengangguran dan Rumah Kumuh, dari 26 persen masyarakat yang tahu akan program ini, hanya 27 persen yang mengatakan kalau program ini sudah dijalankan dengan baik. Sementara 56 persen mengatakan belum berjalan dengan baik dan 17 persen tak tahu.
Sementara dari 34 persen masyarakat yang tahu P4S, 46 persen mengatakan sudah berjalan baik, 38 persen mengatakan belum berjalan dengan baik dan 16 persen mengaku tak tahu. Peningkatan Pelayanan Kesehatan, 62 persen mengatakan sudah berjalan dengan baik, 30 persen bilang belum dan 7 persen mengaku tak tahu.
Program Bawang Merah yang baru berjalan hampir tiga bulan belakangan, 39 persen mengatakan sudah berjalan baik, 43 persen bilang belum dan 18 persen mengatakan tak tahu. Lantas, sudah meratakah kecamatan yang tahu akan lima program tadi? “Di sinilah kelihatan mana camat yang tidur dan mana camat yang bekerja,” kata Jefry langsung menyentil para camat yang hadir dalam ruang rapat itu.
Kalau saja semua Camat bertungkus lumus menyosilisasikan program tadi, kata Jefry, hasilnya tentu hampir merata. Tapi kenyataannya, di Kampar Kiri Hilir 88 persen masyarakat mengatakan tahu SUT, di XIII Koto Kampar dan Koto Kampar Hulu malah 0 persen. “Bukan tidak ada sama sekali masyarakat yang tahu akan program ini. Tapi persentasenya sangat kecil,” kata Jefry.
Begitu juga dengan program Zero Kemiskinan, Pengangguran dan Rumah Kumuh. Di Bangkinang Barat, 67 persen masyarakat bilang tahu. Tapi di Kampar Kiri Hulu dan Kampar Kiri, masyarakat yang tahu justru hanya 10 dan 15 persen.
Di Kampar Kiri, 52 persen orang tahu soal program bawang merah. Tapi di Tapung, Bangkinang Barat dan Salo justru hanya di angka 3 persen. Di Koto Kampar Hulu, 75 persen orang tahu soal P4S, tapi di Kampar Kiri Hulu cuma 15 persen. “Nah, di Koto Kampar Hulu, 85 persen orang tahu soal program Peningkatan Pelayanan Kesehatan. Namun di Bangkinang dan Perhentian Raja justru hanya di angka 28 dan 27 persen. Dari sini kan bisa kita tahu mana camat yang bekerja dan mana yang tidak,” katanya lagi.
Dari hasil survei tadi, kata Jefry, ketahuanlah bahwa kinerja para satuan kerja dan camat masih harus lebih dikebut lagi. “Saya sengaja mensurvei program kerja kita supaya hasilnya terukur. Jangan ngarang-ngarang. Coba kalau tidak kita survei. Selama ini kita bilang P4S sudah oke, tapi hasilnya, cuma 34 persen. Padahal program ini sudah 2 tahun berjalan,” katanya.
Hasil survey itu, menurut Bupati, harus jadi ajang koreksi diri bagi semua satuan kerja. Bukan untuk mencari siapa yang salah dan benar. “Saya minta komunikasi lebih intens lagilah. Apa-apa yang mau dikerjakan, komunikasikan dulu. Khususnya para kepala dinas. Jangan sudah dikerjakan baru ngomong. Terus kepada camat, setiap minggu bikin pertemuan dengan kepala desa. Rembuk bersama apa kendala yang ada dan gimana solusinya. Jangan kerja sendiri-sendiri."
Kalau dari hasil survei ini tak ada perbaikan ke arah yang lebih baik, ini berarti yang tak mau berubah itu yang harus diganti. "Ingat, kita pelayan masyarakat. Bukan untuk dilayani. Dan saya sudah sering bilang, di kantor itu hanya 30 persen, sisanya di lapangan,” Jefry mengingatkan.***(rtc/red)