LAMR Rohul Upayakan Kembalikan Hak Masyarakat
Portalriau.com - PASIR PANGARAIAN - Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Rohul, H.Tengku Rafli S.Sos mengakui, pihaknya saat ini baru bergerak menindaklanjuti areal Rawa Seribu Mahato yang hampir punah, akibat digarap dan dialihfungsikan jadi lahan perkebunan kelapa sawit, karena banyak laporan dari anak kemenakan sejak sebelum bulan puasa lalu.
LAMR Rohul juga baru bergerak, menurut Tengku Rafli, karena selama ini masyarakat lebih memilih berjuang sendiri-sendiri. “Hak-hak masyarakat yang akan kita kembalikan. Karena itu hak masyarakat, sehingga harus dikembalikan fungsinya,”terang Tengku Rafli, Kamis (25/9/2014).
Tengku Rafli juga menjelaskan, keterlibatan LAMR dalam menyelesaikan hak masyarakat, juga sudah sesuai dasar hukum. Karena, kawasan konservasi ikan arwana itu dulunya merupakan tanah ulayat, meski belum adanya Peraturan Pemerintah terkait tanah ulayat di Riau maupun di Rohul.
“Bahkan, di daerah kawasan konservasi ikan arwana, ada tanah persukuan. Sehingga kami ikut campur, mungkin ada kesalahan dari pendahulu-pendahulu kita. Tetapi kita mengkajinya, saat ini bagaimana agar areal itu bisa dikembalikan menjadi hak masyarakat lagi,” tegas Tengku Rafli.
Ditanya terkait dengan banyaknya pondok-pondok di kawasan konservasi ikan arwana, malahan ada yang sudah dijadikan tempat tinggal. Menurut Tengku Rafli itu nantinya tetap akan dikembalikan keareal sebagaimana fungsinya, namun warga disana tetap akan dimintai keterangannya.
Diakui Ketua Bidang Ekonomi dan Hak Tradisional Melayu LAM Rohul, H. Arzami SH bergelar Datuk Bijak Bestari mengakui, bahwa mereka memilkii dasar hukum mengungkap siapa pelaku perambah Rawa Seribu Mahato.
Bahkan saat LAMR turun beberapa waktu lalu, operator eskavator bernama Martin sudah bertanggungjawab. Diririnya sudah membuat pernyataan tertulis untuk tidak menggarap lahan negara, meski dia mengaku hanya sebagai pekerja.
Malahan dari berbagai sumber, saat ini di kawasna konservasi tersebut bukan saja jadi perkebunan kelapa sawit dan dibangun pondok. Bahkan informasinya Sungai Mahato juga sudah dipindahkan, itu sebagai upaya dilakukan para oknum penggarap bisa mengeringkan air di rawa seribu tersebut.(Hendra)