Maraknya PETI, Resahkan Warga Pangean
Suara mesin dompeng yang digunakan para penambang emas yang bising hingga membuat masyarakat resah dan sangat mengganggu aktifitas belajar mengajar di sekolah yang berada di beberapa desa tersebut.
Yasmin adalah salah seorang warga Desa Sukaping yang anaknya tengah melaksanakan studi di pendidikan anak usia dini (PAUT) mengatakan aktifitas penambangan emas sangat mengganggu, suaranya keras, sehingga guru-guru juga harus bersuara keras untuk mengajar muridnya. Rabu (12/12/2014)
Aktivitas PETI di Pulau Rengas dan sekitarnya dilakukan di tengah-tengah pemukiman warga pada pagi hingga sore hari. Anehnya, polisi yang hampir setiap saat mondar-mandir di wilayah ini hanya terpaku menyaksikan aktivitas ilegal yang mencemari lingkungan tersebut.
"Memang tak mau polisi menertibkan PETI di wilayah ini. Buktinya, saya lihat waktu itu polisi hanya 'cuek' melihat sejumlah pekerja melakukan penambangan." ujar Yasmin.
Karena sangat meresahkan, apalagi mengganggu proses belajar mengajar di sekolah, harapnya, polisi harusnya menindak tegas para pelaku tambang ilegal ini.
"Setiap hari kami mengalami kondisi seperti ini, sehingga tidak nyaman guru dan murid mengikuti belajar," katanya
Arikas adalah warga Pangean. Dirinya berharap kepada semua pihak terkait terutama kepolisian dan pemerintah Kabupaten Kuansing benar-benar serius mengatasi soal PETI ini."Kalau masalah untuk menyambung hidup, saya rasa tidak bisa menjadi pembenaran untuk aktifitas ini, karena jelas para pemilik modal bukanlah orang yang susah, sementara akibatnya ditanggung oleh masyarakat banyak,"ujarnya kesal. (Zul/MPR)