Perusda Diminta Cari Investor, DPRD Minta Diskoperindag Mengecek Harga Karet ke Pabrik
Portalriau.com - PASIR PANGARAIAN - Ketua DPRD Rohul Nasrul Hadi dukung langkah Bupati Rohul berencana beli karet petani, bila harga karet petenai masih di bawah Rp10 ribu hingga 2015 mendatang.
Karena, dari dampak anjloknya harga komoditi karet petani dalam setahun terakhir yang menyebabkan ekonomi petani merosot, juga diperparah naiknya harga kebutuhan pokok dan semakin mahalnya biaya pendidikan,
Politisi dari Partai Demokrat juga menduga, anjloknya harga karet dikarenakan ulah para toke atau tengkulak. Dirinya meminta, agar Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Rohul mengecek harga karet diseluruh pabrik karet baik di Riau, Provinsi Sumatera Utara juga provinsi lainnya.
“Diskoperindag harus cek harga karet ke pabrik, berapa sebenarnya harga karet di pabrik saat ini. Mengapa setahun ini, harga karet petani yang dibeli tengkulat terus berada di bawah harga Rp10 ribu per kgnya,” tegas Nasrul, Minggu (9/11/2014).
Kata Nasrul lagi, bahwa saat ini harga komoditi karet petani sudah semakin anjlok. Seperti halnya di Kecamatan Pendalian IV Koto, harga sebelumnya Rp9.400 per kilogram, kini turun jadi Rp9.000 per kg. Sedangkan seperti di Kecamatan Rambah dan kecamatan sekitarnya harga karet bahkan hanya diharga antara Rp8.000 malahan ada yang hanya Rp6.000 per kg.
“Dari hasil yang didapatkan petani, dengan kebutuhan yang harus dipenuhinya tidak sebanding lagi. Bukan hanya itu, termasuk sejak anjloknya harga karet petani, menyebabkan petani ekenominya semakin terjepit. Ini harus kita carikan soluasinya,”ucap Nasrul.
Perusda Rohul Diharapkan Cari Investor.
Selain Ketua DPRD Rohul, Nasrul Hadi ST MT yang mengkritik atas anjloknya harga karet petani di Rohul, Ketua Fraksi Demokrat Kelmi Amri, secara tegas juga meminta Perusahaan Daerah (Perusda) Rokan Hulu Jaya, mencari investor yang bersedia membangun pabrik karet di Kabupaten Rohul.
“Sudah seharusnya, Kabupaten Rohul yang berkembang dan memiliki potensi komoditi karet luas, dibangun pabrik karet. Dengan adanya pabrik karet, nantinya harga karet tetap kompetitif tidak seperti saat ini,”tegas Kelmi.
Dengan wacana Pemkab Rohul yang akan membeli karet petani bila harga terus anjlok, Kelmi juga mendukungnya. Bahkan secara tegas, dirinya menilai, anjloknya harga karet dikarenakan adanya perilaku-perilaku tidak wajar dilakukan oleh para tengkulak.
Bukan hanya itu, Kelmi juga menyoroti, harga karet anjlok terjadi sekitar enam hingga tujuh bulan terakhir. Di tahun lalu, penurunan harga tidak begitu parah,apalagi petani masih jadikan karet sebagai andalan ekonominya.
“Tetapi, sejak harga anjlok, menyebabkan banyak petani karet risau dan ekonominya sulit,” jelasnya.
Juga dikemukakannya, untuk kelapa sawit sendiri, sebagai komoditi handalan pendamping. Hanya saja, terkadang harga sawit juga tidak fluktuatif, bahkan kerap naik dan turun. “Sudah seharusnya dibangun pabrik karet di Rohul, sehingga biaya transportasi bisa ditekan dan harga karet petani di Rohul bisa terus stabil,” tuturnya. (MPR)