Mengapa Anak Susah Makan? Bagaimana Cara Mengatasinya?
Sering sekali orang tua mengeluh,”Dok anak saya ini nafsu makannya kurang, kenapa ya dok, ya... ?”. Tampak sekali kegalauan orang tua tadi terhadap anaknya. Anak yang susah makan selalu membuat orang tua bingung apalagi bila anaknya sudah terlihat mulai lesu, kurus atau lebih kecil bila dibandingkan kawan seusianya. Ada masalah apa pada anak ini dan bagaimana mengatasinya ?. Inilah pertanyaan yang membuat beban perasaan siorang tua. Dalam topik ini akan dibahas beberapa hal/factor yang dapat menyebabkan anak susah makan dan bagaimana cara mengatasinya.
Anak Suka Meniru Prilaku Orang Tuanya.
Biasanya bila salah satu orangtuanya punya kebiasaan susah makan anaknya juga akan susah makan juga. Rubahlah kebiasaan anda itu demi anak anda. Makanlah bersama-sama anak anda dan perlihatkan anda makan dengan lahap dihadapan anak anda, sehingga anak anda akan meniru perilaku anda itu. Anak anda akan bisa merasakan kebahagiaan dan nikmatnya makan bila semua anggota keluarga duduk bersama-sama dia di meja makan.
Kergantungan Pada Seseorang
Dikarenakan kedua orang tua yang sibuk bekerja, anak sering dititipkan dan di asuh kepada seseorang misalnya dititip ke pembantunya. Pagi, siang, sore anak sama pembantu. Mandi, makan, tidur siang dan bermain semuanya sama pembantu, malam saja yang dengan orang tuanya. Suatu saat pembantu pulang kampung atau berhenti bekerja. Anaknya sudah terbiasa makan disuapi pembantu, akibatnya berkemungkinan anaknya akan berkurang nafsu makannya ketika harus makan bersama dan disuapi ibunya.
Oleh sebab itu lebih baik anak diajarkan untuk dapat dekat dengan seluruh anggota keluarga dan mau makan dengan siapa saja. Bagi orang tua yang bekerja, berikanlah perhatian anda semaksimal mungkin untuk anak sepulang anda bekerja. Luangkan waktu anda untuk menyuapi anak anda.
Sifat Membangkang
Pada usia 2 tahun keatas, anak sering membangkang atau tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang gak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent. Banyak orang tua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Cara-cara tersebut seharusnya tidak boleh dilakukan.
Ajaklah dia berbicara dan berilah pengertian dengan baik. Bersabarlah menghadapi anak. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototinya. Sebaiknya anak dilaparkan dulu, nanti berangsur-angsur dia akan mau makan, tetapi memang perlu telaten, disiplin dan kesabaran.
Sifat Ego
Akui sifat ego anak anda. Sekali-kali beri mereka kebebasan untuk mengambil makanan sendiri tanpa harus disuapi. Kita selalu cenderung menyuapi anak makan karena tidak ingin makanan tumpah berceceran. Sehingga dalam masyarakat kita bisa dijumpai anak yang sudah besar masih disuapi orang tua. Latihlah anak anda sejak dini untuk bisa makan sendiri.
Manfaatkan sifat ego anak anda, misalnya anak anda susah sekali makan sayur, ambillah sayur dipiring anak anda dengan tiba-tiba, makanlah sayur itu dengan lahap, kemudian pura-puralah minta lagi sayur yang ada di piring anak anda tersebut sambil mendekatkan tangan anda kearah piringnya, biasanya karena sifat egonya sianak tidak mau miliknya diambil, maka ia akan berusaha dengan cepat menghabiskan sayur itu. Silakan dicoba.
Jajan Sebelum Jam Makan
Perilaku yang kurang baik sering kali muncul karena ulah orang tua kebiasaan untuk menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Atau karena anak malas makan tapi kalau dikasih jajanan mau, si orang tua berkesimpulan daripada tidak mau makan ya lebih baik jajan saja, dari pada tidak makan sama sekali. Ini kesimpulan yang semakin salah. Akibatnya anak makin terbiasa malas makan.
Anak yang sudah mengkonsumsi makanan padat kalori perutnya akan segera kenyang sehingga ia tidak mau makan. Perlu dipahami anatomi tubuh anak kita, lambung anak kita sangatlah kecil, tidak sebesar lambung orang dewasa, satu buah roti donat saja sudah membuat anak anda kenyang. Boleh memberikan jajan anak kita tetapi apabila anak sudah makan atau jajananlah jauh sebelum waktunya makan tiba. Belikan jajanan yang sehat seperti sepotongan buah, yoghurt, es krim, susu kotak yang berkualitas, dsb. Sebaiknya ibu juga membuat makanan cemilan selingan sendiri, agar terjamin kualitasnya, seperti kue bolu, pisang goreng, dsb.
Suasana Hati
Nafsu makan si anak juga terkait dengan suasana hatinya. Kegiatan makan bagi seorang anak harus dibuat dalam suasana yang menyenangkan. Buatlah hati anak selalu senang, misalnya, pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain. Jika sudah waktunya makan anak anda sedang sedih, ngambek atau murung, Bujuklah anak anda, buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya, ajak anak makan sambil jalan-jalan, sambil bermain, dsb. Jangan memaksa anak makan dengan memarahi. Jangan ada unsur paksaan sehingga timbul kesan saat makan menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjenglkelkan si anak.
Pujilah anak anda bila ia mau makan dan berikanlah dia hadiah, misalnya, diajak jalan-jalan, dicium, dipeluk, dsb. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang mendidik. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau mengajaknya jalan-jalan lagi.
Anak Sedang Sakit
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan anak sedang sakit. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan. Kadang kala ada anak yang masih saja main dan ceria saat dia sedang demam ringan. Untuk itu sering-seringlah menggendong anak anda sehingga anda dapat merasakan suhu tubuhnya dan mengetahui anak anda sedang demam sedini mungkin. Bila anak anda tidak mau makan dan ternyata sedang sakit maka cepat-cepatlah ke dokter keluarga anda. Prinsipnya bila anak anda sakit, makin cepat dibawa ke dokter semakin baik, jangan ditunda-tunda.
Variasi makanan
Menu makan saat bayi (diatas 6 bln) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Sama dengan orang dewasa, kalau makan dengan lauk dan sayur yang itu-itu saja tiap hari pasti akan sangat membosankan. Cara penyajian makanan saat dihidangkan perlu juga diperhatikan. Sajikanlah dengan aneka warna dan bentuk yang menarik misalnya buatlah irisan-irisan wortel dengan aneka bentuk yang lucu, dsb.
Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan, satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan dan dikeluarkankan dari mulutnya, ini harus dimasukkan lagi. Bila makanan tersebut dimuntahkan, berikan makanan dengan cara sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.
Variasi makanan sangat menunjang tumbuh kembang anak. Mulailah sejak dini anak dikenalkan dan dibiasakan dengan pola makan 4 (empat) sehat, 5 (lima) sempurna, yaitu nasi (makanan pokok lainnya), lauk-pauk, sayur-mayaur, buah-buahan dan susu.
Problema makan pada anak usia sekolah yang sering kita temukan adalah tak mau makan sayur. Sejak dini ajarkan dan biasakanlah anak anda untuk makan sayur. Perhatikanlah apa masalah anak anda saat dia mencoba makan sayur, apakah dia susah untuk mengunyah dan menelan sayur tersebut sehingga di keluarkannya lagi dari mulut, kalau hal itu terjadi biasanya disebabkan sayur adalah makanan yang berserat sehingga si anak sulit untuk melumatnya. Untuk itu pilihlah sayur yang mudah di kunyah si anak misalnya, labu siam, wortel yang masih muda, pucuk muda bayam, dsb.
Minum susu terlalu banyak
Banyak orang tua yang keliru, menganggap susu adalah makanan yang dapat memenuhi hampir seluruh kebutuhan gizi si anak. Pada anak usia diatas 2 tahun, susu bukanlah menjadi kebutuhan wajib, yang menjadi kebutuhan utama mereka adalah nasi, sayur-mayur, lauk-pauk dan buah. Susu hanya sebagai pelengkap.
Kadang anak usia diatas 2 tahun masih susah merubah kebiasaannya yang tiap lapar hanya mau minum susu, tetapi orang tua tetap harus terus mengajarkannya untuk makan nasi, sayur dan lauk-pauk serta buah-buahan, teruslah berusaha.
Bagi orang tua yang baru memiliki bayi sebaiknya hanya memberikan ASI (Air Susu Ibu) sampai usia 6 bulan. 6-9 bulan ditambahkan bubur susu yang berbahan tepung beras, Kenapa berbahan tepung beras agar anak anda sejak dini sudah mengenal dan menyukai rasa beras, sehingga saat berpinpah menu ke nasi tim (6-9 bulan) dan nasi lunak (9-12 bulan) anak anda dapat menerima perubahan itu dengan mudah karena lidahnya sudan biasa merasakan bahan beras.
Semoga Bermanfaat.
(Oleh : dr. M. Agung)