MANDAU, PORTALRIAU.COM - Hari ke 2 Demo Warga Kelompok Tani Makmur B ( Bumbung), masih dapat pengawasan monitoring dari Polsek Mandau dan Pemerintah Desa.
Satuan Polsek Mandau yang dipinpin Kanit Intel AKP Rinaldi SH, turun langsung kelapangan memonitor terkait adanya kegiatan Warga dalam melanjutkan penanaman Tanaman Pisang, Nenas, Ubi dll.
Kapolsek Mandau Kompol Riki Ricardo melalui Kanit Intel AKP Rinaldi SH, ( Jum'at, 07/04/2017 ), saat diminta tanggapannya menyampaikan, satuan Polsek Mandau yang turun merupakan bagian pengamanan Bahabikamtibmas, yang mana adanya aksi dari Masyarakat.
Mencegah agar tidak sampai ada gesekan atau benturan antara Masyarakat dan Pihak PT.MURINI Wood Indah Industri dalam hal ini Security di lapangan," memonitor keadaan jangan sampai ada timbul gesekan, saling menahan diri, jangan lakukan tindakan yang melawan hukum," terang Rinaldi.
Lanjut Kanit Rinaldi, anggota Polsek dan Bhabinkamtibmas Bumbung Aiptu Yarman Batee, tetap ditempatkan memantau situasi yang berkembang.
Dan juga berharap, pihak Mangjemen PT MURINI dan CPI segera tanggap dan menyampaikan kejelasan pada Masyarakat," dianggap sangat perlu untuk mengakhiri keadaan ini, demi ketertiban dan keamanan sesegera ditutaskan," harap Rinaldi didampingi Kades Bumbung Abdul Razak.
Keterangan dari Johansen Napitupulu menyampaikan, perjuangan untuk masyarakat tetap berlanjut, harapan Masyarakat dapat menanam lahan dengan tumpang sari,Aktivitas pekerja Kebun Murini tetap berlanjut, terbukti saat Warga menanam tanaman mereka memanen Sawit," warga butuh lahan yang pantas diperjuangkan, lahan ini masih milik negara dan warga sangat memerlukannya," tegasnya.
Menurutnya, lahan milik PGPA ( CPI saat ini ), awalnya seluas 580 Ha, dan saat ada kebakaran Lahan, sebanyak 200 Ha lebih, telah diambil alih masyarakat tanpa keberatan dari Murini." Yang menjadi pertanyaan, mengapa sisanya seluas 360 lebih malah dikuasai dan ditanami PT MURINI, bila memang ada kesepakatan atau jual beli tanah milik CPI minta dijelaskan ke Pemerintah dan Masyarakat," jelas Johansen.
Salah seorang Warga Ramini ( 52 Thn ) juga turut kesal atas sikap yang ditunjukkan PT MURINI selama ini.Perkebunan warga yang melintas jalan kebun, juga tidak dapat dirawat masyarakat, bahkan untuk lewat ampang ampang Penjagaan saja, Warga menerima perlakuan kurang menyenangkan," mereka ibarat Negara dalam Negara, Program CSR PT MURINI juga tidak ada dirasakan masyarakat lingkungannya," geram Ramini yang diamini warga lainnya.