Ayah Bayi Penderita Tumor Otak Asal Kabupaten Rohul Merasa Bingung
ROKAN-Bayi penderita tumor otak basah Muhammad Ihya akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Dunia (RSUD) Arifin Achmad, dan baru tiba di Kota Pekanbaru pada Minggu (8/5) dini hari sekitar pukul 01.00 Wib, sudah 10 hari Muhammad Ihya asal Desa Sikebau Jaya, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), masih tetap bertahan Hidup.
Namun orang tuanya, Badaruddin merasa sangat was-was dengan kedaan anak ke duanya dengan istrinya Yuli, rasa khawatir ini bukan tanpa sebab, pasalnya hingga kini perawatan terhadap anaknya dinilainya belum secara maksimal.
Dirinya juga merasa terkejut, saat dokter bedah syaraf yang mulai menangani anaknya, di RSUD Arifin Ahmad, mengungkapkan, anaknya baru bisa dilakukan oprasi ketika berat badannya telah mencapai 5 Kg atau berumur 10 minggu.
"Saya kaget tadi mas, saat dokter memberitahu saya, bahwa anak saya baru bisa di Oprasi ketika berat badanya sudah mencapai 5 Kg, sedangkan setiap harinya berat badanya terus berkurang. Saya jadi bingung, gimana cara menaikanya hingga 5 Kg," katanya, Rabu (11/5) dengan nada sedih.
Dirinya merasa, bahwa dokter bedah syaraf yang menangani anaknya belum menanganinya dengan masksimal serta timbul pertanyaan dibenaknya, tentang pernyataan dokter di RSUD Rohul, bahwa ini penyakit serius dan harus segera dilakukan operasi.
"Saya jadi bingung mas, dokter di Pasir Pangaraian bilang anak saya harus segera di operasi jangan sampai lewat dua minggu. Tapi dokter di Pekanbaru bilang anak saya bisa dioprasi kalau udah berat 5 kg dan berumur 10 minggu. Jadi siapa yang benar," keluhnya.
Bukan hanya itu saja, dirinya juga menjelaskan, berat badan bayinya semakin lama semakin menurun. Saat dilahirkan berat badannya mencapai 3 Kg, namun kini berat badanya hanya mencapai 2,5 Kg.
Terlebih, pernyataan dari salah satu dokter bedah syaraf yang menangani anaknya, mengungkapkan bahwa jika sudah berangsur baik anaknya bisa dibawa pulang, sambil menunggu berat badanya mencapai 5 Kg, baru bisa dilakukan oprasi.
Badaruddin menjelaskan, dirinya hanya bisa pasrah melihat anak ke duanya dalam keadaan sakit dan juga khawatir nyawa anaknya tidak tertolong, pasalnya keadaan anaknya semakin menurun.
Untuk diketahui, ssejak dilahirkan pada Minggu (1/5) malam lalu, Muhammad Ihya yang punya kelainan di dahi kepalanya langsung dirujuk ke RSUD Rohul. Namun, selama dirawat di ruang inkubator, pihak rumah sakit milik Pemkab Rohul tak bisa berbuat apa-apa karena peralatan operasi terbatas.
Bermodalkan kartu Jamkesda yang diurus Badruddin, ayah bayi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Rohul dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinasosnaker) Rohul, akhirnya pihak RSUD Rohul mendaftarkan Muhammad Ihya melalui on line untuk segera dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru dan mendapatkan penanganan secepatnya.
Selama tujuh hari Muhammad Ihya mendapatkan perawatan dari petugas medis RSUD Rohul, karena harus menunggu nomor antrean menyusul ruangan di RSUD Arifin Achmad sedang penuh pasien. Ia sempat mengungkapkan Apa yang harus dilakukan sebagai rakyat kecil.
"Apa karena kami hanya punya kartu Jamkesda, sehingga anak saya M. Ihya harus mnderita seperti ini," keluh Badruddin sambil terisak dan Ia mengharapkan Bupati Rohul Suparman dan anggota DPRD Rohul ikut mendesak pihak RSUD Arifin Achmad Pekanbaru agar bayinya Muhammad Ihya segera mendapatkan penanganan medis, atau segera dioperasi.
Bapak dua anak ini sangat menginginkan anak keduanya tersebut, hidup normal seperti anak-anak lainnya, termasuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah umum.(dpr/raj)